Sunday, August 12, 2007

Joglo-ku yang tersisihkan

Bila kita melihat gambar ini, tentunya akan timbul berbagai komentar dan pernyataan. Bagi saya gambar ini adalah menarik untuk simpan dan dikomentari.
"Ada sebuah rumah tertutup dengan pagar seng, didepannya ada becak sedang parkir dan mungkin si pengemudi sedang makan didalam warung bakso itu".
"Terus ada lagi seorang Ibu yang sedang menurunkan barang dari kendaraan tercintanya lengkap dengan caping (tutup kepala tradisional) dan bronjongnya (tempat membawa barang-barang dibelakang sepeda yang semuanya terbuat dari bambu. Entah apa itu sayuran atau barang-barang lainnya?"
Yang lebih menggelitik lagi, sebenarnya bangunan yang ada di dalam tembok seng itu sebenarnya adalah bangunan khas Jawa yang biasa di sebut dengan rumah "Joglo" (khas Jogya & Solo :) ).
Yah memang, rumah itu adalah salah satu rumah Joglo yang berada di Jantung kota Surakarta.
Yang anehnya lagi di depan kanan rumah itu ada semacam pintu gerbang yang menurut pengamatan saya, bentuk yang demikian ini adalah bukan Jawa?? Atau kalau saya boleh menebak, ini adalah semacam pagar yang berasal dari Jepang atau daerah Asia Timur.
Untuk apa dan apa kaitannya dengan rumah Joglo ini, saya masih bingung??
Barang kali ada yang bisa menjelaskan? monggo monggo..

Tentang bendera2 merah putih ini, memang saat ini adalah bulan agustus dan menjelang hari kemerdekaan negara Republik Indonesia yang tercinta ini. Jadi banyak yang menjual bendera dan juga "umbul-umbul" untuk menyambut dan menghias jalan-jalan kota dalam memperingati "independent day " alias "dina kamardikan" kuwi.

Nah Kaitannya dengan kemerdekaan ini, saya menyoroti sebaliknya dengan bangunan Joglo ini. Tampak dan terkesan sekali bahwa bangunan ini tidak lagi merdeka karena terkurung tembok seng, dan juga sama sekali nggak terawat oleh pemiliknya.
Mudah-mudahan pemagaran ini akan dimaksudkan untuk proses bembinaan dan pengembalian bangunan itu lagi. Karena ada kecurigaan bahwa bangunan ini mungkin juga akan di hancurkan dan dibangun dengan gedung yang baru???
Alangkah kasihan sekali...

Karena Joglo dan rumah Joglo sekarang sudah menjadi barang langka, dan mempunyai nilai citarasa arsitektur yang cukup unik dan tinggi sebagai cirikhas rumah tinggal masyarakan Jawa yang penuh dengan philosophy hidup.

Kita lihat saja nanti kelanjutan daeri bangunan ini...

6 comments:

nutella said...

Wow Saratruna, tulisanmu penuh poetis dan sastramu dhuwur...

Lik Dar said...

Thanks Nutella..

nutella said...

Saya mengira bukan kamu yang menulis blog itu tadi... Saya kira bapak Pramoedya Ananta Toer yang menulis itu kerana alunan kata yang indah itu.

Lik Dar said...

Aoowww..
Disejajarkan sastrawan besar ya Bums..
Itu tadi saya sendiri yang nulis, makanya agak lama banget gitu lhoxx..
Saya sudah mulai baca tentang Pramudya itu juga lhoxx..

nutella said...

Fotonya bagus dan ide tulisannya juga bagus. Ini adalah debat yang menarik. Sejauh mana pembangunan ekonomi harus dikejar dan sejauh mana kebudayaan lama harus dipegang? Mungkin ramai orang Jawa yang tidak ingin hidup lagi di rumah Joglo, atau malah tidak mampu atau tidak praktis untuk mendiami rumah tersebut. Makanya ramai yang memilih rumah di kawasan perumahan atau apartemen di Jakarta. Demikian juga dengan cara pengangkutan secara tradisi - kan ramai yang ingin membeli speda motor atau mobil yang cepat dan praktis.

Lik Dar said...

Memang ini menarik untuk disimak. Sejauh mana orang bisa mempertahankan kepribadiannya lewat sesuatu yang sudah wariskan, seperti: artistik bangunan, musik, tari, drama, bahasa dan ilmu pengetahuannya..
Karena sesungguhnya konsep tradisi itu adalah "global" maknanya.